

Menanamkan Empati untuk Menghapus Bullying
Bullying bukan sekadar candaan berlebihan atau ejekan ringan. Di balik tawa yang terdengar, sering kali tersimpan luka yang tidak terlihat. Dalam dunia pendidikan, termasuk di sekolah dan pesantren, bullying bisa muncul dalam bentuk fisik, verbal, hingga perundungan digital (cyberbullying). Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin secara tegas menolak segala bentuk tindakan yang merendahkan, menyakiti, dan menghinakan sesama manusia.
Dalam perspektif Islam, setiap manusia memiliki kehormatan (karamah insaniyah) yang harus dijaga. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa manusia telah dimuliakan. Artinya, merendahkan orang lain sama saja dengan merusak kemuliaan yang telah Allah berikan. Bullying jelas bertentangan dengan nilai dasar ini.
Bullying dan Larangan Menghina dalam Al-Qur’an
Islam secara eksplisit melarang perilaku saling menghina, mencela, dan memberi julukan buruk. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT melarang suatu kaum merendahkan kaum lain, karena bisa jadi yang direndahkan lebih baik di sisi Allah. Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa bullying bukan hanya masalah sosial, tetapi juga pelanggaran moral dan spiritual.
Ejekan tentang fisik, latar belakang keluarga, kemampuan akademik, atau kondisi ekonomi jelas termasuk dalam kategori yang dilarang. Bahkan candaan yang membuat seseorang merasa terhina tetap tidak dibenarkan. Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzalimi dan tidak merendahkannya.
Dampak Bullying dalam Pandangan Islam
Bullying bukan sekadar persoalan perasaan. Dampaknya bisa sangat serius: menurunkan rasa percaya diri, memicu kecemasan, depresi, bahkan trauma jangka panjang. Dalam konteks pesantren atau lembaga pendidikan Islam, bullying juga bisa merusak ukhuwah Islamiyah dan lingkungan belajar yang seharusnya penuh kasih sayang.
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga hati (qalb). Ketika seseorang menyakiti hati orang lain, apalagi secara berulang, itu termasuk bentuk kezaliman. Rasulullah SAW bersabda bahwa kezaliman akan menjadi kegelapan pada hari kiamat. Maka, membiarkan bullying terjadi sama saja dengan membiarkan kezaliman tumbuh.
Konsep Ukhuwah dan Empati sebagai Solusi
Islam menawarkan solusi yang jelas melalui konsep ukhuwah (persaudaraan) dan empati. Seorang Muslim dianjurkan untuk mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Jika kita tidak ingin dihina, maka jangan menghina. Jika kita tidak ingin direndahkan, maka jangan merendahkan.
Empati menjadi kunci utama dalam pencegahan bullying. Membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi korban akan membuat seseorang berpikir ulang sebelum berkata atau bertindak. Pendidikan karakter berbasis nilai Islam perlu menanamkan sikap saling menghormati sejak dini.
Peran Pendidikan dan Pesantren dalam Gerakan Anti Bullying
Lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membangun budaya anti bullying. Pesantren, misalnya, bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga tempat pembentukan akhlak. Penanaman nilai adab, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial harus menjadi prioritas.
Guru dan pengasuh perlu menjadi teladan dalam bersikap adil dan penuh kasih. Santri juga perlu diberikan ruang dialog untuk melaporkan perundungan tanpa rasa takut. Edukasi tentang bahaya bullying, termasuk cyberbullying, sangat penting di era digital saat ini.
Bullying di Era Digital dan Tanggung Jawab Muslim
Perkembangan media sosial menghadirkan bentuk baru perundungan: komentar jahat, body shaming, hingga penyebaran konten yang mempermalukan orang lain. Dalam Islam, menjaga lisan bukan hanya secara verbal, tetapi juga dalam bentuk tulisan dan unggahan.
Apa yang kita ketik hari ini bisa menjadi catatan amal di hadapan Allah. Maka, bijak bermedia sosial adalah bagian dari akhlak seorang Muslim. Anti bullying dalam perspektif Islam juga berarti menjaga etika digital dan tidak mudah menyebarkan kebencian.
Membangun Budaya Saling Menguatkan
Alih-alih menjatuhkan, Islam mengajarkan untuk saling menguatkan. Kata-kata yang baik adalah sedekah. Senyum adalah ibadah. Memberi dukungan kepada teman yang lemah adalah bentuk kepedulian sosial yang tinggi nilainya.
Budaya saling mendukung akan menciptakan lingkungan yang sehat dan produktif. Di pesantren maupun sekolah, gerakan literasi, mentoring, dan pembinaan karakter bisa menjadi sarana membangun solidaritas. Santri dan pelajar perlu diajak untuk menjadi agen perubahan, bukan pelaku perundungan.
Kesimpulan
Anti bullying dalam perspektif Islam bukan sekadar kampanye sosial, melainkan perintah moral dan spiritual. Islam menolak segala bentuk penghinaan dan kezaliman. Setiap Muslim bertanggung jawab menjaga kehormatan saudaranya, baik secara langsung maupun di dunia digital.
Dengan menanamkan nilai ukhuwah, empati, dan adab sejak dini, lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang yang aman dan penuh kasih. Bullying bukan bagian dari ajaran Islam. Sebaliknya, Islam hadir untuk membangun manusia yang berakhlak, berempati, dan saling memuliakan.
