

Dalam tradisi pesantren, ada satu nasihat yang sering diulang dan diwariskan dari generasi ke generasi: “Adab lebih tinggi daripada ilmu.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup yang menjadi fondasi kesuksesan seorang santri. Sebab dalam Islam, ilmu tanpa adab bisa kehilangan arah, sementara adab tanpa ilmu masih membuka pintu keberkahan.
Di tengah persaingan akademik dan derasnya arus informasi digital, santri tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara karakter. Di sinilah pentingnya memahami bahwa adab di atas ilmu bukan berarti meremehkan ilmu, melainkan menempatkan akhlak sebagai landasan utama dalam menuntut dan mengamalkan ilmu.
Makna Adab dalam Tradisi Pesantren
Adab bukan hanya soal sopan santun, tetapi mencakup sikap hormat kepada guru, kesungguhan dalam belajar, menjaga lisan, serta keikhlasan dalam mencari ilmu. Di pesantren, adab diajarkan bukan hanya melalui teori, tetapi melalui keteladanan dan pembiasaan sehari-hari.
Seorang santri diajarkan untuk menghormati guru sebelum menerima ilmunya. Duduk dengan sopan, mendengarkan dengan khusyuk, tidak memotong pembicaraan, dan menjaga niat belajar karena Allah adalah bagian dari pendidikan karakter yang kuat.
Tradisi ini bukan tanpa alasan. Banyak ulama besar yang berhasil bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena adabnya yang tinggi terhadap guru dan ilmunya.
Ilmu Tanpa Adab: Potensi yang Kehilangan Arah
Ilmu adalah cahaya, tetapi adab adalah wadahnya. Tanpa wadah yang baik, cahaya itu bisa menyilaukan bahkan membakar. Seseorang yang memiliki banyak pengetahuan namun tidak diiringi adab bisa menjadi sombong, merasa paling benar, dan mudah merendahkan orang lain.
Dalam konteks modern, kita sering melihat fenomena orang yang cerdas secara akademik, tetapi kurang santun dalam berpendapat, terutama di media sosial. Perdebatan yang seharusnya ilmiah berubah menjadi saling serang karena hilangnya adab dalam berdiskusi.
Bagi santri, ini menjadi peringatan penting. Ilmu agama yang dipelajari harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Semakin tinggi ilmu, seharusnya semakin lembut sikapnya.
Mengapa Adab Menjadi Fondasi Kesuksesan Santri?
Kesuksesan santri tidak hanya diukur dari seberapa banyak kitab yang telah dikaji, tetapi juga dari bagaimana ia mengamalkan dan menyebarkan ilmunya. Adab membentuk karakter yang kuat, dipercaya, dan dihormati masyarakat.
Santri yang beradab akan mudah diterima di mana pun berada. Ia mampu berdakwah dengan santun, menyampaikan kebenaran tanpa menyakiti, dan menjadi teladan dalam perilaku. Inilah yang membuat dakwahnya lebih menyentuh hati.
Selain itu, adab juga membuka pintu keberkahan ilmu. Ilmu yang dipelajari dengan niat yang lurus dan sikap hormat akan lebih mudah dipahami dan diingat. Banyak kisah ulama yang menunjukkan bahwa keberhasilan mereka adalah buah dari kesungguhan menjaga adab kepada guru.
Adab kepada Guru, Ilmu, dan Sesama
Ada beberapa bentuk adab yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan santri:
- Adab kepada guru – menghormati, mendoakan, dan tidak meremehkan nasihatnya.
- Adab kepada ilmu – belajar dengan sungguh-sungguh, tidak menyepelekan pelajaran, dan mengamalkan apa yang telah dipelajari.
- Adab kepada sesama – menjaga ukhuwah, tidak merasa paling benar, serta menghargai perbedaan pendapat.
Ketiga aspek ini saling melengkapi. Tanpa adab kepada guru, ilmu sulit berkah. Tanpa adab kepada ilmu, pengetahuan menjadi dangkal. Tanpa adab kepada sesama, dakwah kehilangan sentuhan kemanusiaan.
Tantangan Menjaga Adab di Era Digital
Di era digital, menjaga adab menjadi tantangan tersendiri. Media sosial sering kali membuat seseorang merasa bebas berkomentar tanpa batas. Kritik disampaikan tanpa etika, perbedaan pendapat berubah menjadi konflik terbuka.
Santri sebagai penjaga nilai-nilai Islam harus mampu menjadi contoh dalam menjaga adab di dunia maya. Menulis dengan santun, menyampaikan dalil dengan bijak, dan tidak mudah terpancing emosi adalah bagian dari implementasi adab di era modern.
Justru di sinilah peran santri sangat dibutuhkan. Ketika ruang digital dipenuhi kebisingan, santri hadir membawa keteduhan.
Menjadikan Adab sebagai Identitas
Adab bukan sekadar pelengkap, melainkan identitas. Ketika seseorang dikenal santun, rendah hati, dan bijaksana, orang lain akan lebih terbuka menerima ilmunya. Sebaliknya, jika sikapnya kasar dan arogan, ilmu yang disampaikan bisa kehilangan makna.
Menjadi santri berarti siap menjadikan adab sebagai pakaian sehari-hari. Dalam berbicara, menulis, berdiskusi, bahkan dalam diam sekalipun.
Pada akhirnya, adab di atas ilmu adalah fondasi kesuksesan santri yang sejati. Ilmu akan terus berkembang, zaman akan terus berubah, tetapi akhlak yang baik akan selalu menjadi nilai yang abadi.
Karena kesuksesan bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi tentang bagaimana ilmu itu membentuk karakter dan memberi manfaat bagi orang lain.
